Miris, Harus Bertaruh Nyawa, Warga Dusun I Benuang Galing Untuk Mendapatkan Pendidikan

BENGKULU – METRO GEMA NEWS:

Lantaran akses jalan tak memadai, anak-anak di Dusun I Desa Benuang Galing Kecamatan Seberang Musi Kepahiang, harus bertaruh nyawa untuk menempuh pendidikan. Bagaimana tidak, dari pantauan yang dilakukan awak media di lokasi. Memang tampak jelas, akses jalan Simpang Cengkeh-Talang Marto yang ada di dusun itu, sangat ekstrem dan membahayakan pengendara. Apalagi jika kondisi sedang hujan, akses jalan keluar menuju sekolah di dusun tersebut sangatlah licin. Bahkan dari informasi yang diberikan warga setempat, anak-anak tidak bisa keluar untuk sekolah ketika hujan membasahi jalan yang hanya beralaskan tanah tersebut.

Sementara itu yang lebih mengejutkannya lagi, sejak Desa Benuang Galing didirikan sekitar tahun 80an silam, memang akses jalan di Dusun I desa tersebut kurang diperhatikan. Padahal diketahui, sejumlah akses jalan di wilayah Desa Benuang Galing semuanya diperbaiki, bahkan terus ditingkatkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang.

Kepala Desa Benuang Galing Heri Salmon, S.Sos menjelaskan, terkait peningkatan pembangunan jalan di dusun I Desa Benuang Galing itu, sudah diusulkan terus oleh pihaknya. Hanya saja memang faktanya, sampai saat ini perbaikan ataupun pembangunan jalan di dusun itu belum bisa direalisasikan.

“Setiap Musrenbang bahkan Reses, kita selalu mengusulkan agar akses jalan di dusun I desa kami itu bisa dibangun. Akan tetapi sampai saat ini, nampaknya belum direspon dengan baik dan ditindaklanjuti oleh pemerintah. Namun meski demikian, jalan yang panjangnya lebih kurang 3 KM itu tetap kami harap bisa dibangun. Karena kabarnya, tahun ini 2024 jalan ini akan dibangun oleh Pemkab Kepahiang, tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda ingin di bangun,” ujar Heri.

Sementara itu, Kadus I Desa Benuang Galing Bandi, menyebutkan di dusun tempat tinggalnya itu fasilitas yang ada sudah cukup memadai. Baik itu fasilitas air, listrik, bahkan sinyal yang baru-baru ini dipasang tower BTS, sebagai upaya bentuk bantuan dari pemerintah setempat. Hanya saja yang sangat disayangkannya, sampai saat ini akses jalan tak kunjung juga diperbaiki.

Selama 20 tahun tinggal di Dusun I Desa Benuang Galing, ungkap Bandi. Dirinya bersama pemerintah desa selalu mengusulkan pembangunan jalan. Bahkan dikatakannya, sejak Kepahiang mekar pembangunan jalan itu sudah diusulkan.

“Dampak dari jalan yang belum dibangun itu, anak-anak di dusun I Benuang Galing tidak bisa sekolah saat hujan turun. Karena jalan yang ada sangat licin dan tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Bahkan lebih mirisnya lagi, saat ada warga kami yang sakit, kami terpaksa menandu warga kami itu untuk membawanya berobat, dan terpaksa jika kondisi sedang hujan, kami mengangkutnya dengan berjalan kaki disepanjang jalan 3 Km yang licin itu. Untuk itu kami sangat berharap, agar bisa dilakukan pembangunan di jalan tersebut, baik itu melalui Pemkab maupun DPRD Kepahiang. Jangan sampai memakan korban dulu baru diperhatikan,” jelasnya.

Disamping itu, Sarman (49) yang merupakan imam di Dusun I Desa Benuang Galing menyyebutkan Pemerintah jangan hanya janji-janji manis saja, untuk membangun jalan di dusunnya. Karena setiap Musrenbang, reses, bahkan menjelang Pemilu, pihaknya selalu dijanji-janjikan saja oleh beberapa pihak terkait. Hal itu dikarenakan, di dalam Dusun I Desa Benuang Galing tersebut, terdapat 42 KK dan setidaknya ada 100an lebih mata pilih yang aktif.

“Kami terus dijanji-janjikan saja oleh beberapa pihak terkait pembangunan jalan di dusun kami ini. Padahal setahu saya, dengan kondisi kami seperti ini, kami sangat kesulitan melalui jalan tersebut. Apalagi saat hujan turun, jalan dusun kami ini sangat licin dan membahayakan. Sementara perlu diketahui, banyak anak kami yang tak bisa sekolah kalau kondisi sedang hujan. Begitu juga dengan kami para petani yang harus kesusahan saat hendak memasarkan hasil tani kami. Jadi tolonglah pengertiannya, dan tolong kami sebagai rakyat kecil ini diperhatikan,” ungkapnya.

Disisi lain, Niken Juliana (14) salah satu pelajar yang tinggal di Dusun I Desa Benuang Galing itu menceritakan setiap hari dirinya selalu mempertaruhkan nyawa demi untuk mendapatkan pendidikan di luar dusun. Bagaimana tidak, jalan dari rumah Niken yang berada di Dusun 1, Desa Benuang Galung menuju sekolahnya yang berada Desa Air Selimang, berjarak sekitar 6 Kilometer. Ditambah lagi ia harus berjalan dengan kondisi jalan yang memang masih tanah kuning, dan turun naik bergelombang.

“Kalau cuaca sedang hujan, saya harus izin dengan guru untuk tidak masuk sekolah. Karena jika dipaksakan, kita bisa jatuh akibat licin. Bahkan saya juga sudah pernah jatuh saat hendak berangkat ke sekolah,” terangnya.

Dirinya juga menjelaskan, harus berangkat sekitar pukul 06.30 WIB dari rumah, dan sampai ke sekolah sekitar pukul 07.30 WIB. Terkadang jika dirinya kesiangan untuk berangkat sekolah, dia sudah pasti terlambat sampai ke sekolah.

“Saya cukup sering terlambat ke sekolah, karena saat di jalan, saya harus hati-hati melewati kondisi jalan yang masih tanah liat,” singkatnya.

Liputan: (Ibnu Sakirin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *